by

Mengatasi Kendala Kelistrikan di Seram Bagian Barat

-Ragam-207 views

Piru,N25NEWS.com – Dalam pertemuan koordinasi bersama dengan PLN Piru dan tim di Kantor PLN Piru pada tanggal 25 Februari 2021, Mercy Barends membahas dan mengevaluasi menyeluruh kondisi kelistrikan di tiga kabupaten yang ada di Pulau Seram.  Masing-masing Kabupaten Maluku Tengah, Seram Bagian Barat (SBB) dan Seram Bagian Timur (SBT) yang menjadi wilayah operasi PT.  PLN (Persero) UP3 Masohi. Dalam evaluasi tersebut, Mercy Barends sampaikan beberapa poin berkaitan dengan permasalahan kelistrikan.

Pertama, terkait kondisi elektrifikasi di Seram Bagian Barat. Berdasarkan pemaparan materi dengan PLN UIW Maluku dan PLN UIP Maluku beserta jajarannya di Kantor PLN UIW Maluku tanggal 22 Februari 2021 sebelumnya disampaikan bahwa rasio elektrifikasi Seram Bagian Barat adalah 94% (87 desa) dari total 93 desa. Namun pada kenyataannya di lapangan bahwa masih banyak desa – desa yang mengalami listrik padam dan belum teraliri listik. Untuk itu, Mercy Barends meminta roadmap SBB secara menyeluruh terkait kelistrikan seperti target yang ingin dicapai, berapa jumlah total gardu listrik, pemetaan jaringan listrik, jumlah mesin dan berapa dayanya dll. Beliau sampaikan bahwa hal ini sangatlah penting agar kita memiliki gambaran detil terkait kelistrikan di SBB kedepannya.

Kedua, terkait masalah sering padamnya listrik di Kecamatan Taniwel. Mercy Barends sampaikan situasi yang terjadi di Taniwel bahwa listrik menyala 12 jam. Beliau sampaikan bahwa Taniwel merupakan salah satu kecamatan tua di Maluku dan seharusnya mendapat perhatian serius sehingga tidak menimbulkan kecemburuan antara masyarakat Taniwel dengan masyarakat Pasanea yang bersebelahan yang listriknya menyala 24 jam. Ketiga, terkait ketersediaan mesin. Menurut Mercy Barends apakah mesin-mesin yang beroperasi di SBB ini masih cukup layak untuk beroperasi. Beliau sampaikan juga bahwa seharusnya ada mesin cadangan sehingga bisa memback-up jika ada mesin yang rusak. Keempat, terkait personil atau SDM yang ada di PLN.

Mercy Barends mempertanyakan bagaimana kondisi real personil/staf PLN di lapangan, apakah kuotanya sudah mencukupi dan memenuhi standar terkait pegawai lapangan PLN di SBB maupun di SBT. Hal ini dikarenakan ada situasi penghentian sementara (moratorium) perekrutan pegawai PLN. Beliau berharap agar ada tenaga-tenaga teknis lokal yang memiliki kompetensi dan handal untuk ditempatkan di area-area wilayah PLN SBB dan PLN SBT sehingga bisa terjadi transfer skill demi mendukung percepatan pembangunan SBB kedepannya.

Dalam hal ini, Manager UP3 Masohi Bapak Adi Purnomo menjelaskan bahwa UP3 Masohi membawahi ULP Masohi, ULP Piru, ULP Kairatu, ULP Kobisonta dan ULP Bula. Untuk sistem operasi (daya mampu) listrik 24 jam berada di Piru, Kairatu dan Manipa. Sedangkan untuk sistem operasi (daya mampu) listrik 12 jam terjadi di Taniwel, Buano, Tahalupu, Tonu Jaya dan Luhu. Untuk diketahui bahwa hampir semua mesin sudah melewati batas JKM. Apabila mesin-mesin ini dipaksakan beroperasi 24 jam, maka ini akan menimbulkan black out atau mesin rusak. Terkait masalah listrik di Taniwel, beliau sampaikan permohohonan maaf dikarenakan saat ini mesin yang beroperasi 1unit dengan daya listriknya sebesar 400 KW, sedangkan beban puncaknya mencapai 611 KW. Hal ini yang akhirnya mempengaruhi kinerja listrik menyala di Kecamatan Taniwel. Mengenai mesin, seiring dengan diberlakukan kebijakan penghentian sementara (moratorium) sewa mesin dari PLN Pusat tentulah menjadi kendala bagi PLN untuk memiliki mesin cadangan. Adi Purnomo jelaskan bahwa gardu listrik (power house) tersedia namun tiada ada mesin satuan pembangkit diesel (SPD). Tentu saja hal ini juga menjadi kendala.

Pada akhirnya, Mercy Barends merespons terkait masalah kelistrikan yang terjadi di SBB ini bahwa persoalan mendasar dan utama yang terjadi di Pulau Seram khususnya di SBB, adalah lebih pada kesiapan infrastruktur dan juga kondisi wilayah.

Untuk itu, beliau jelaskan bahwa dari hasil evaluasi menyeluruh yang dilakukan hari ini dapat disimpulkan bahwa terdapat empat persoalan utama kelistrikan di Pulau Seram yang nanti akan menjadi bahan dan perhatian serius untuk dibicarakan bersama pihak Kementerian ESDM RI dan PT PLN (Persero) Pusat. Selain itu, Mercy Barends juga berpendapat agar perlu adanya koordinasi dan dukungan dari pemerintah daerah dan kerjasama masyarakat untuk masalah ganti rugi tanaman untuk dapat diselesaikan dengan pendektan yang baik demi percepatan pembangunan atau pemeliharaan instalasi listrik di SBB.

Dapat disampaikan bahwa dalam pertemuan koordinasi ini juga turut didampingi perwakilan dari PLN UIW Maluku Ramli Malawat (Manager Humas), PLN UIP Maluku Bpk Afiandi Amin, Manager UP3 Masohi Adi Purnomo, Manager ULP Piru Eka Febrianti Empra, Manager ULP Kairatu Rita Talanila dan Supervisor PLN Kantor Pelayanan Taniwel Jefri semuel tetty. Selain itu, hadir juga Anggota DPRD Provinsi Dapil SBB Samson Atapary, SH dan dua Anggota DPRD Kabupaten SBB Jodis Rumahsoal dan Andarias Hengky Kolly, SH.(**)

 

Comment

Direkomendasi