by

Puncak Peringatan Tragedi Berdarah 29 September 1950, KLBL Gelar Pementasan Drama Dengan Tema Jalan Sunyi Kemerdekaan

-Ragam-149 views

Amalatu-N25NEWS.COM.Komunitas Literasi Budaya Leparisa ( KLBL) menggelar acara puncak Pementasan Drama tragedi Berdarah 1950, yang dilangsungkan di halaman Mesjid Asyukur Negeri Latu, pada Selasa,(29/9/2020).

Hadir dalam acara tersebut, Pemerintah Negeri Latu , Anggota DPRD Kabupaten Seram Bagian Barat Asal Latu, Rusli Said Sosal, Perwakilan Polsek Kairatu Timur (Bhabinkamtibmas), Babinsa, satuan TNI BKO Banau, Kepala Sekolah dan Dewan Guru tingkat SD – SMA di Latu, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda, Ketua Majelis Taklim dan Anggota serta berbagai lapisan Masyarakat di Negeri Latu.

Dalam sambutannya, Ketua Komunitas Literasi Budaya Leparisa ( KBKL), Baria Wenno menyampaikan, memaknai perjalanan organisasi Komunitas Literasi Budaya Leparisa yang berdiri pada tanggal 11 Agustus Tahun 2020 sebagai gerak sosial berdasarkan niat berdirinya, organisasi ini diharapkan dapat menjadi stimulan perubahan dalam Masyarakat, sebagai suatu keharusan berjalannya roda organisasi.

Wenno menambahkan, berdasarkan pada kondisi dan realitas yang terjadi, semangat globalisasi telah mengantarkan Kita pada kondisi dibawah bayang- bayang individualisme, karena itu, sudah saatnya mentalitas tersebut sudah harus dirubah menjadi jati diri orang – orang yang terpelajar yang harus membekali diri dengan ilmu, karena penanaman nilai- nilai moralitas menjadi dasar pembentukan ahlak suatu negeri.

Menurutnya, Pentas Drama Seni Budaya Leparisa dilakukan sebagai bentuk pengabdian terhadap Negeri Latu, dan upaya untuk menyuarakan kepedulian terhadap peningkatan potensi Generasi Muda dengan kegiatan kegiatan positif, Generasi Muda Leparisa diharapkan menyibukan diri dengan melakukan kegiatan yang dapat menggali potensi , bakat dan minat yang dimiliki.

Karena itu, Komunitas Literasi Budaya Leparisa, mengajak para Pelajar, Mahasiswa, dan Masyarakat Umum untuk semangat dalam berliterasi.

Ketua Panitia, Yusuf Elly dalam sambutannya menyampaikan, Pentas Drama Seni Budaya Leparisa Amalatu dilakukan sebagai bentuk pengabdian terhadap Negeri Latu, dan upaya untuk menyuarakan kepedulian terhadap peningkatan potensi Generasi Muda dan kecintaan terhadap NKRI.

Bentuk kepedulian yang dilakukan oleh komunitas KLBL dengan melibatkan Generasi Muda, Pelajar dan Siswa adalah bentuk semangat dalam membuat karya dan simbol budaya, semoga bermanfaat untuk generasi selanjutnya.

“Atas nama panitia, Kami sampaikan ribuan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu memberikan sumbangsih materil maupun moril, hingga dapat terlaksana prosesi doa bersama dan pementasan drama di hari ini,” harap Elly.

Sementara, Anggota DPRD Kabupaten Seram Bagian Barat asal Negeri Latu, Rusli Sosal S.E menyatakan, kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan dalam rangka mengenang kembali peristiwa 29 September 1950 ini, sebagai salah satu bentuk semangat pengabdian dan metode perjuangan demi terwujud Negeri Latu yang aman damai dan berkarya.

Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi KLBL, A. Wakano, dalam pernyataannya kepada sbb.n25news.com mengatakan, hadirnya Komunitas Literasi Budaya Leparisa (KLBL), diharapkan selalu memotivasi generasi muda Leparisa untuk membangkitkan semangat juang, menunjukan rasa kecintaan Mereka dengan seni, karena sesungguhnya, Generasi Muda adalah generasi penuh dengan semangat dan memiliki sejumlah pengetahuan yang harus dikembangkan dalam bentuk teatrikal drama dan puisi.

“Motivasi seperti ini harus dihargai dan didukung oleh semua stekholder terutama Pemerintah Negeri, dan masih banyak lagi potensi seni budaya yang dapat digarap dan dikembangkan oleh rekan rekan KLBL”ungkap Wakano.

Pentas Drama Seni Budaya Leparisa Amalatu ini, kemudian dibuka dengan resmi oleh Penjabat Negeri Latu, proses pementasan dilangsungkan dengan pembacaan puisi dan diselingi Drama Tragedi Berdarah 1950 oleh Panitia KLBL dengan mengusung Tema “Jalan Sunyi Kemerdekaan”.

Drama ini mengisahkan tentang, perjuangan Para Tetua Negeri Latu dalam mempertahankan NKRI di Negeri Latu, kemudian disusul dengan pembacaan puisi yang diselingi juga dengan drama berjudul “Putri Rasa” oleh grup teatrikal POKEMON, selanjutnya, Grup Aupuo menyajikan drama teatrikal dengan sorotan judul “ Penyiksaan Pemuda”, acara kemudian dilanjutkan dengan drama yang dibawakan oleh, English Club Junior yang diakomodir oleh, Ny. Nurbaiti Zulbahri dengan sorotan judul “Sejarah Kelam 1950”.

Keseluruhan proses pementasan drama dan puisi yang mengisahkan tragedi 1950 silam itu, mampu mengharukah lapisan stekholder pemerintahan Negeri Latu dan Masyarakat, hingga Masyarakat yang menyaksikan proses pementasan Pentas Drama Seni Budaya Leparisa Amalatu meneteskan air mata.

Diakhir prosesi pementasan ini, ditandai dengan dokumetasi bersama oleh rekan rekan Panitia Pentas Drama Seni Budaya Leparisa (KLBL).

Penulis : Nicko Kastanja

Editor : Redaksi

Comment

Direkomendasi